SPBU kecamatan Ibu Dikeluh
JAILOLO,legalpost.id - Pelayanan SPBU di kecamatan Ibu desa Togola Wayoli di keluhkan masyarakat. Pasalnya, para pegawai SPBU dinilai lebih banyak melayani pengecer gelon di banding kenderaan umum.
Ishak Hasan, salah satu warga megatakan bahwa pelayanan pertamina tidak sesuai dengan koridor. Karena, pelayanan dibuka pada pukul 9 pagi, dan lebih mementingkan pelayanan kepada pengecer gelon yang didistribusikan ke pedesaan.
Menurut Ishak, seharusnya para operator SPBU lebih utamakan melayani para kendaraan umum bukannya lebih melayani para pengecer gelon.
" jadi kami memohon kepada pimpinan SPBU kecamatan Ibu desa Togola Wayoli agar segera melihat hal ini dan melakukan evaluasi terhadap para operatornya". cetusnya
Salah satu pengecer atas nama Idris Kasih, saat diwawancarai reporter mengaku beli bensin perliter Rp 8 ribu, yang dibeli dari SPBU satu gelon ukuran 25 liter dengan harga Rp 175 ribu. itu pun hanya sesekali dia memperoleh karena kehabisan bensin.
Maka itu, banyak pengencer yang membeli kepada pihak kedua, maka harga menjadi bertambah Rp 5 ribu setiap liter. Dia mengaku terpaksa beli karena hindari antrian.
"pengecer lain membeli dari tangan ke dua dari yang diencer SPBU. Karen karyawan SPBU jual dengan gelon menggunakan mobil pic up sampai di desa pedalaman, dan itupun di beli hanya terbatas dua gelon."akunya.
Bahkan menurut dia, telah menyaksikan sendiri mobil premium yang kasih masuk 5 ton bensin di SPBU, setelah di layani pengisian ke mobil, dan motor, bahkan pengguna galon terlihat serentak petugas menyebut minyak habis.
Pengecer ini mengaku usaha jual bensin yang diencer akhirnya perliter Rp 10 ribu, begitu juga
pertalite perliter Rp 10 ribu karena pertalite di beli di pengecer tangan kedua dari SPBU satu gelon 25 liter dengan harga Rp 210 ribu dan satu galon bensin 25 liter Rp 180 ribu.
Kepala pengawas SPBU Ibu, victor listantiono, saat dikonfirmasi diruang kerjanya Selasa, 9 April 2019, mengaku tidak mungkin utamakan gelong karena SPBU setiap hari BBM sebanyak 1-2 ton belum lagi BBM yang disuplaier mencapai 10-15 ton sekalipun tidak dijual habis. Dengan itu, tidak mungkin ada distribusi gelon.
"Silahkan dicek masyarakat pembeli apakah ada antrian hingga ratusan meter? karena di SPBU terpadu desa Togolo Wayoli kecmatan Ibu, antrian paling 5-10 mobil dan di SPBU Jailolo, saja antria begitu tidak ada komplen."tutur dia.
Menurut dia, sekitar 5-10 ton premiun dan petralaite serta solar, biasanya habis di jangka waktu dua hari sampai tiga hari. Bahkan untuk penjualan sekalipun tidak tahu karena itu urusan operator.
" saya kurang menangani penjualan karena saya urusan bukti-bukti di dalam kantor."akunya. (Tim)






Komentar