Meski Tarif Tak Naik, Tagihan Listrik Warga Ternate Tembus Jutaan Rupiah

TERNATE,Legalpost.id– Keluhan terkait meningkatnya tagihan listrik kembali disuarakan sejumlah warga dan pelaku usaha di Kota Ternate. Meski pihak PLN memastikan tidak ada kenaikan tarif listrik secara resmi, masyarakat mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Salah satu keluhan datang dari Ramdani, pemilik Cafe Jarod yang berlokasi di Kelurahan Kampung Makassar Timur, Kecamatan Ternate Tengah. Ia mengaku menggunakan daya listrik 1.300 VA untuk menunjang operasional usahanya.

Menurut Ramdani, biaya listrik yang biasanya berkisar Rp200 ribuan per bulan melonjak tajam pada April 2026 hingga mencapai lebih dari Rp600 ribu.

“Biasanya pembayaran listrik sekitar Rp200 ribuan. Tapi pada April kemarin naik menjadi lebih dari Rp600 ribu. Kemudian pada Mei turun sedikit di kisaran Rp500 ribuan,” ujar Ramdani saat ditemui, Selasa (9/6/2026).

Meski mengalami kenaikan biaya listrik, ia tetap berusaha mempertahankan usahanya di tengah meningkatnya biaya operasional dan harga kebutuhan pokok.

“Pendapatan kafe kadang membantu, kadang juga tidak. Apalagi harga kebutuhan pokok di pasar ikut naik. Bawang merah sekarang bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram, ikan juga mengalami kenaikan harga,” katanya.

Ramdani menyebut omzet usahanya per hari berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Namun, lonjakan biaya listrik tetap menjadi beban tambahan yang harus diperhitungkan.

“Mungkin bukan karena tarif listrik naik, tapi bisa jadi karena penggunaan listrik di kafe memang lebih banyak. Itu yang kami rasakan sekarang,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Jamaludin Bahry, warga Kelurahan Kayu Merah. Ia mengaku sempat mengalami lonjakan tagihan listrik setelah beralih dari sistem prabayar (token) ke sistem pascabayar.

“Sebelumnya saya menggunakan listrik token, kemudian beralih ke sistem pembayaran bulanan. Pada bulan pertama tagihan mencapai lebih dari Rp2 juta, lalu bulan berikutnya sekitar Rp1 juta lebih selama dua bulan berturut-turut,” ungkap Jamaludin.

Namun, pada bulan ini tagihan listriknya turun drastis menjadi sekitar Rp150 ribu.

“Untuk bulan ini saya hanya membayar sekitar Rp150 ribu. Tapi saya belum tahu bagaimana tagihan bulan depan,” ujarnya.

Sebagai pelanggan, Jamaludin berharap pemerintah dan PLN dapat memberikan perhatian lebih kepada masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses pelayanan.

“Kami berharap pemerintah memperhatikan kondisi masyarakat, khususnya di daerah 3T. Kami juga berharap petugas pencatat meter listrik dapat menyampaikan langsung jumlah pemakaian yang tercatat kepada pelanggan, sehingga masyarakat mengetahui secara jelas penggunaan listrik mereka,” katanya.

Meningkatnya keluhan masyarakat terkait tagihan listrik menjadi perhatian tersendiri di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok yang turut membebani ekonomi rumah tangga maupun pelaku usaha kecil. Warga berharap adanya edukasi yang lebih intensif serta transparansi dalam pencatatan dan perhitungan tagihan listrik agar pelanggan dapat memahami penyebab perubahan biaya yang mereka alami.(*)

Komentar

Loading...