kesehatan
Halmahera Barat Masih ‘Koleksi’ Kasus Gizi Buruk
Jailolo,LegalPost.id- Jong Halmahera Barat 1914 menemui dua kasus penderita gizi buruk yang hingga kini belum mendapatkan sentuhan pelayanan intens pemerintah Halmahera Barat (Halbar).
Radia Missy, salah satu pengurus Jong Halmahera 1914, pada legalPost.id Rabu, 22 Juli 2020 melalui rilise mengatkan kasus gizi buruk itu telah dilaporkan ke puskesmas Baru kecamatan Ibu Selatan, melalui bidan desa setempat, tepatnya tanggal 01 Juli 2020 dan dikabarkan petugas gizi dari puskesmas Baru telah turun untuk mendata.
Namun kata Radia, hingga kini belum ada langkah penanganan ataupun intervensi dari pihak puskesmas setempat. Padahal kasus gizi buruk adalah kejadian luar biasa yang membutuhkan penanganan segera. Hal ini tentu berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan yang berdampak pada masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan yang disediakan negara.
"Intinya kasus Gizi buruk di Tuguaer adalah cerminan lemahnya pelayanan pemerintah terhadap masyarakat."ucapnya.
Dengan itu lanjut Radia, Jong Halmahera rencananya Kamis, 23/07/2020) akan menyurat ke Komisi 3 untuk memanggil Kadinkes agar dapat dilakukan hearing segitiga bersama Jong Halmahera 1914.
Bahkan Jong akan mendesak ke Komisi 3 untuk membuat rekomendasi agar Kadinkes di copot dari jabatannya, atau bila perlu Bupati dan Wakilnya saja yang dimakzulkan dari jabatan mereka masing-masing.
Jong kata Radia, menyesal masalah kesehatan yang terjadi di kabupaten Halmahera Barat luput dari pengamatan dan perhatian pemerintah daerah. Dinas kesehatan sebagai instansi yang bertugas menangani masalah kesehatan dinilai lalai mengatasi masalah kesehatan, seperti kasus gizi buruk yang ditemukan oleh Jong Halmahera 1914 di desa Tuguaer, Ibu Selatan.
Selain Radia, pengurus Jong Halmahera 1914, yang lain seperti Risdayanti Harjono, S.Kep juga membenarkan bahwa, terhitung 4 hari secara berturut-turut jong Halmahera melakukan advokasi masalah kesehatan di desa Tuguaer. Advokasi ini kami lakukan, setelah mendapat informasi ada anak yang terindikasi gizi buruk dan penderita hydrocephalus di desa tersebut.
"Kami turun di desa Tuguaer dan lakukan pengambilan data sebanyak 3 orang anak yang terindikasi gizi buruk dan 1 orang anak yang disebut penderita hydrosephalus. Untuk anak yang terindikasi gizi buruk, data yang kami kumpulkan berupa, usia bayi, berat badan bayi, lingkar kepala, panjang badan bayi, jenis kelamin bayi dan lain sebagainya. Kami kemudian konsultasikan dengan beberapa dokter untuk memastikan secara medis."Aku dia.
Selain Radia dan Risdayanti persoalan gizi buruk iru diperkuat oleh pernyataan Ririn Setyawati salah mahasiswa Coass Universitas Trisakti menambahkan, data gizi buruk itu dikumpulkan kemudian di kaji untuk memastikan secara medis, apakah ketiga bayi tersebut mengalami malnutrisi/gizi kurang ataukah gizi buruk.
dia mengaku hasilnya setelah dilakukan plotting grafik, secara mengejutkan untuk dua orang anak, grafik bergerak dibawah minus tiga (-3), yang berarti kedua bayi tersebut menderita gizi buruk, sedangkan yang satunya lagi adalah seorang balita mengalami gizi kurang.
Balita yang mengalami gizi buruk tersebut kata dia, ditemui bernama Febriano Kotu, jenis kelamin laki-laki, berusia 5 bulan dan memiliki berat badan 4.5 Kg. Balita kedua bernama Jibril Cristini Sungi, jenis kelamin perempuan, usia
1.6 tahun dan memiliki berat badan 6.4 Kg. Sedangkan balita yang mengidap gizi kurang, bernama Valeri Putri Buntenan, jenis kelamin perempuan, berusia 1.5 tahun dan memiliki berat badan 7.4 Kg. Dan untuk anak penderita Hidrocephalus bernama Mikdan (7 tahun).(tim)


Komentar