Ingat Pesan Ibu Yanfrangki Luang Merai Kesuksesan

Legalpost.id-Perjalanan Yanfrangki Luang, sosok pemuda berkelahiran desa Baru kecamatan IBU Selatan kabupaten Halmahera Barat 1 Juli 1987 hingga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat DPRD (DPRD) kabupaten Halmahera Barat selama dua periode.

Pria yang dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bernam Elisabeth Alus ini mengaku bisa dipercaya menjadi wakil rakyat hingga saat ini berkat kebiasaan hidup dengan bersyukur yang diajarkan seorang ibu.

Hal kecil yang terkesan dibenak wartawan media ini disaat ikut berkunjung ke rumah Yanfrangki di desa Gamsida kecamatan IBU Selatan. Di sana saya melihat kebiasaan makan yang suda sangat langkah diterapkan.

Tidak bermaksud wartawan mengamati kebiasaan Yanfrangki Luang, tetapi disaat itu kami berdua sedang menyantap makanan yang disediakan di atas meja. "Orang tua kami dari suku Wayoli sangat kuat dengan adat dan istiadat, terlebih yang berkaitan dengan menikmati hidangan makanan."kata Angki sapaan akrab pria dua anak ini.

Angki yang dikenal merakyat oleh warga setempat ini mengaku dahulu dia tumbuh besar dari didikan dan diberi makanan dari hasil jerih paya orang tua yang bekerja sebagi petani. Dia telah diajarkan cara makan sebagi wujud dari aplikasi syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.

Saat sedang makan, kami berdua dikunjungi oleh sejumlah masyarakat sekitar yang notabene adalah konstituen yang selama ini berada dibarisan terdepan menghantarkan Yanfrangki Luang bisa duduk di kursi legislator.

Yanfrangki kemudian menceritakan bahwa ibunya sangat tegas mengatur tatacara makan dan selesai makan. Yakni yang pertama, jika selesai makan tangan tidak boleh disiram dengan air di atas bekas piring makanan.

Menurut Yanfrangki, adat suku Wayoli melarang prilaku tersebut karena mencuci tangan di atas piring dari sisah makanan adalah tanda meremehkan rezeki yang telah didapat dengan susah paya.

"Jika torang cucu tangan di atas piring maka mama sangat marah karena menilai torang menghina rezeki."ucapnya.

Selain itu yang kedua, kata Angki adalah makanan yang disantap tidak bisa tersisa sebutir di atas piring, karena sisa makanan di atas piring adalah tindakan tidak bersyukur atas rezki.

Menurut Yanfrangki, pesan dari ibunda itu yang setiap saat diingat dan dilakukan setiap saat. Dengan itu, saat menjadi anggota DPRD dirinya menyadari bahwa wujud dari tindakan yang diajarkan sesungguhnya kita bersyukur dengan apa yang diberikan.

Mantan ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang kota Ternate ini mengaku terkadang orang tua tidak menyampaikan maksud dari apa yang diajarkan. Namun semua itu bermakna sebagai melatih diri untuk tetap menghargai pemberian untuk meluaskan jalan pada setiap urusan saat menjalankan hidup.

Komentar

Loading...