Iswanto ST Wajah Wakil Rakyat yang Sesungguhnya
TERNATE,Legalpost.id-Gelar "wakil rakyat" terlalu sering diobral. Spanduk besar, janji manis di masa kampanye, lalu hilang setelah kursi didapat. Tapi di Daerah Pemilihan Ternate–Halmahera Barat, ada nama yang justru bekerja sebaliknya: Iswanto ST, anggota DPRD Malut. Bagi banyak warga, Iswanto bukan sekadar politisi. Dia bukti bahwa wakil rakyat yang sebenarnya masih ada, dan dia berjalan di antara kita.
Latar belakang Iswanto sebagai seorang Sarjana Teknik bukan hanya tempelan di belakang nama. Cara berpikirnya sistematis, solutif, dan terukur. Ketika warga Jailolo mengeluh soal jalan rusak yang menghambat hasil cengkeh dan pala ke pasar, Iswanto tidak datang bawa mikrofon. Dia datang bawa data, bawa kajian teknis, dan bawa itu ke ruang sidang DPRD. Baginya, politik adalah ilmu tentang membereskan masalah, bukan tentang mempertahankan citra. Dapil bukan sekadar peta suara, tapi wilayah kerja yang harus dia rawat setiap hari.
Yang membuat Iswanto berbeda adalah keberadaannya setelah pemilu usai. Warung kopi di Ternate, dermaga nelayan di Ibu, sampai kebun warga di Sahu ia datangi tanpa protokoler. Keluhan soal air bersih, jembatan putus, hingga beasiswa yang macet, dia catat sendiri. Tidak semua bisa selesai besok, tapi warga tahu dia mendengar dan mengawal. Di kantor DPRD Malut, namanya sering muncul dalam rapat-rapat pembahasan anggaran karena ngotot memastikan alokasi untuk Ternate dan Halmahera Barat tidak dikorbankan. “Kalau saya diam, siapa yang bicara untuk mereka?” itu prinsip yang dia pegang.
Sebagai putra daerah, Iswanto paham benar bahwa Halmahera Barat dan Ternate punya dua wajah: potensi luar biasa dan ketimpangan yang nyata. Karena itu dia dorong pembangunan yang tidak hanya fokus di kota. Infrastruktur dasar di kecamatan terluar, akses pendidikan vokasi untuk anak muda Halbar, hingga penguatan nelayan dan petani jadi agenda yang terus dia dorong. Baginya, menjadi wakil rakyat berarti memastikan pembangunan tidak berhenti di gapura kota. Dia ingin anak-anak di Loloda bisa punya mimpi yang sama besarnya dengan anak-anak di pusat Ternate.
Kekuatan Iswanto ST bukan pada retorika, tapi pada konsistensi. Tidak ada drama politik, tidak ada panggung pencitraan berlebihan. Yang ada adalah kerja. Laporan resesnya tebal bukan karena banyak foto, tapi karena banyak tindak lanjut. Aspirasi yang dia bawa ke provinsi adalah aspirasi yang dia verifikasi sendiri di lapangan. Di mata konstituennya, itu definisi paling jujur dari “diwakili”. Mereka tidak butuh wakil yang terkenal, mereka butuh wakil yang kenal mereka.
Dapil Ternate–Halmahera Barat sedang berproses, dan proses itu butuh pengawal. Iswanto ST memilih peran itu. Dia mengingatkan bahwa kursi DPRD bukan tujuan akhir, tapi alat untuk memastikan suara dari pesisir, dari kebun, dari kampung-kampung didengar di provinsi. Wakil rakyat yang sebenarnya memang tidak selalu paling ramai di media. Tapi jejaknya nyata di jalan yang diperbaiki, di sekolah yang dibangun, dan di warga yang merasa tidak sendirian. Dan untuk Ternate–Halmahera Barat, nama itu adalah Iswanto ST.(*)
Penulis: Sansul Sardi Jurnalis asal Ternate