1. Beranda
  2. BREAKING NEWS

Program “Sekolah Menanam” Dorong Generasi Mandiri dan Stabilkan Inflasi Pangan

Oleh ,

SOFIFI,Legalpost.id — Asisten I Gubernur Provinsi Maluku Utara, Kadri Leatje, mengapresiasi gagasan inovatif Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara, Abubakar Abdullah, dalam menggerakkan program sekolah menanam komoditas hortikultura seperti cabai dan sayur-mayur di lingkungan sekolah.


Program tersebut memanfaatkan lahan seluas sekitar 10,5 hektare yang tersebar di sejumlah sekolah.
Menurut Kadri, program ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk karakter dan kemandirian generasi muda.
“Ini bukan hanya mendidik siswa menanam, tetapi menumbuhkan jiwa kewirausahaan pertanian bagi generasi milenial sebagai pelaku usaha masa depan,” ujar Kadri, Minggu (22/2/2026) di Ternate
Ia menilai kegiatan ini berpotensi melahirkan generasi wirausaha muda yang mandiri di sektor pangan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Ke depan, program tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan di SMK, tetapi juga diperluas ke SMA negeri maupun swasta.
Ekspansi ini dinilai penting untuk membantu menstabilkan harga komoditas hortikultura yang kerap berfluktuasi dan menjadi penyumbang inflasi, khususnya cabai dan bawang merah yang harganya dapat melonjak hingga sekitar Rp70.000 per kilogram pada periode tertentu.
Kadri juga mendorong keterlibatan aktif Dinas Pertanian melalui balai teknis untuk mendampingi sekolah secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan, persemaian, pemupukan, penanaman, hingga panen.
Selain itu, siswa diharapkan mendapat edukasi tentang integrasi pertanian konvensional dengan teknologi digital atau digital farming sehingga konsep “garden school” modern dapat terwujud.
“Lahan sekolah yang selama ini tidak produktif dapat dikonversi menjadi kebun hortikultura yang bermanfaat,” jelasnya.
Secara teknis, penanaman cabai di lahan seluas 1 hektare dengan penggunaan varietas unggul, teknologi budidaya, serta manajemen unsur hara yang tepat dapat menghasilkan sekitar 8–12 ton per hektare per musim tanam.
Jika dikembangkan hingga 10 hektare di lingkungan sekolah, potensi produksi diperkirakan mencapai sekitar 100 ton per musim tanam.
Dengan kisaran harga Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram — bahkan dapat mencapai Rp70.000 menjelang Ramadan — komoditas ini dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan dalam menjaga stabilitas harga pangan.
Produksi tersebut juga berpotensi memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar sekolah, pasar lokal, hingga sektor industri dan kawasan pertambangan apabila dikelola secara berkelanjutan dengan pola tanam paralel dan panen bertahap.
Kadri optimistis program ini dapat berkembang menjadi model sekolah mandiri berbasis pertanian modern di Maluku Utara.
“Gagasan ini sangat strategis. Jika diterapkan secara luas, sekolah tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat produksi pangan dan pembentukan generasi yang mandiri,” pungkasnya.(*)

Baca Juga